/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan  img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan  img:hover {border: 1px solid #333}

MANDIRI DENTAL SUPLAY

SELAMAT DATANG DI BLOG JUAL BAHAN DAN ALAT2 KESEHATAN GIGI.
KAMI DATANG BAGI YG MENCARI ALTERNATIF PASANG GIGI DENGAN HARGA EKONOMIS !?
KAMI BERPENGALAMAN SUDAH LEBIH DARI 17 Th. JADI JGN RAGU !!
SEGERA HUB. KAMI...
HP. 082142831833 atau HP: 081332795857 / BBM: 512EC943C

HOME / OFFICE:"
" MANDIRI DENTAL SHOP "

JL. GOLF KK.23 SOOKO, MOJOKERTO,
SALAM...SUKSES !

BANK BRI, A/N. KHOIRUN
No Rek. 371501010925539

ATAU

BANK JATIM, A/n. Sholeh Suprayitno
No Rek. 0322775202

TERIMAKASIH

Rabu, 10 Oktober 2012

MACAM MICRO MOTHOR DGN HARGA BARU

KAMI DATANG BAGI YG MENCARI ALTERNATIF PASANG GIGI DENGAN HARGA EKONOMIS !!
KAMI BERPENGALAMAN SUDAH LEBIH DARI 15 Th. JADI JGN RAGU,
SEGERA HUB KAMI...
082142831833 / 085334995766

" FAHMI DENTAL"
JL. GOLF KK.23 SOOKO, MOJOKERTO

SALAM












SEMUA HARGA DIATAS Rp. 2 Jt keatas. sebaiknya konfirmasi dulu by hp. karena harga bisa naik turun.
0821482831833
ALAT KAMI JELAS JD BISA DICEK.
DAN KAMI JUGA MEMBUKA CABANG BARU DI SURABAYA
DGN ALAMAT: JL. PACAR KELING  V/48 (STAN PASAR) DEPAN SOTO AYAM.
 
Untuk pemesanan dan konfirmasi bisa menghubungi :
Sholeh: 085334995766 / 082142831833
Email: sholehprayitno10@gmail.com
BANK JATIM
No Rek: 0322775202
Max 3 hari setelah uang ditranfer. 
  
TERIMAKASIH ATAS KEPERCAYAAN KONSUMEN.
FAHMI DENTAL.

Jumat, 03 Agustus 2012

Menambal Gigi Berlubang Lebih Gampang daripada Mencegahnya

Menambal Gigi Berlubang Lebih Gampang daripada Mencegahnya



img
(foto: Thinkstock)
Jakarta, Sejak bertahun-tahun lalu, penekanan dalam pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi banyak difokuskan pada penyembuhan dan pengobatan penyakit. Padahal, akan jauh lebih efektif dan efisien jika melakukan pencegahan sebelum munculnya penyakit.

"Sejak beberapa tahun yang lampau, PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) telah bersepakat untuk memfokuskan perhatiannya pada pencegahan gigi berlubang'" kata Drg. Zaura Anggraeni, MDS, Ketua Umum PDGI dalam acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pepsodent dan PDGI, Kamis (1/3/3012).

Lubang gigi dan gusi berdarah disebabkan oleh kuman, makanan-makanan yang manis dan lengket, kebersihan gigi mulut, dan kesemuanya sangat berkaitan dengan gaya hidup.

Buktinya, di negara-negara maju terjadi perubahan pola-pola makan menjadi pola makan yang lebih moderen. Salah satunya adalah banyak memakan produk karbohidat olahan seperti roti yang makin empuk. Hal itu akan memicu terjadinya gigi berlubang karena sisa makanan akan makin mudah melekat pada gigi.

Kondisi ekonomi yang makin meningkat juga menyebabkan makanan manis seperti permen, coklat, kue-kue yag manis dan lengket makin mudah didapat masyarakat.

"Kalau menanggulanginya setelah terjadi lubang, maka tidak akan ada habis-habisnya karena pola hidup penyebab gigi berlubang tidak dihentikan," imbuh dokter gigi yang akrab disapa Dr. Zaura ini.

Kuman pada gigi akan memfermentasi makanan manis dan menghasilkan asam. Asam dengan pH (derajat keasaman) yang sangat rendah, di bawah 5,5, dapat melarutkan email gigi. Email merupakan bagian yang paling keras dari tubuh. Jika email ini larut, maka terjadilah lubang pada gigi.

Selain itu, masyarakat juga banyak yang baru mengunjungi dokter gigi setelah giginya berlubang. Padahal, proses dari terjadinya pengikisan email gigi hingga munculnya lubang pada gigi membutuhkan waktu yang lama, dari 6 sampai 24 bulan. Maka itu, Dr. Zaura menghimbau masyarakat agar sejak dini mengontrol kerusakan gigi sebelum terlambat.

Untuk merealisasikan hal ini, PDGI telah berusaha membuat berbagai macam program untuk mempromosikan pencegahan gigi berlubang seperti menggosok gigi beramai-ramai pada peringatan bulan kesehatan gigi, melakukan himbauan ke SD dan puskesmas, bahkan membuat program SD binaan untuk menanamkan pentingnya menjaga kebersihan gigi sejak dini.

Menyikat Gigi Bisa Cegah Radang Otak



img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Menyikat gigi dan membersihkan menggunakan dental floss (flossing) secara teratur dapat membantu mencegah meningitis. Hal tersebut berdasarkan hasil sebuah studi yang mengidentifikasi hubungan antara jenis umum bakteri mulut dan beberapa penyakit.

Meningitis adalah radang membran pelindung yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang, yang dikenal sebagai meninges. Meningitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau mikroorganisme lainnya. Kondisi ini dapat berakibat fatal.

Gejala yang paling umum dari meningitis adalah sakit kepala dan leher kaku terkait dengan demam, kebingungan, muntah dan ketidakmampuan untuk mentolerir cahaya atau suara keras (fonofobia). Kadang-kadang, terutama pada anak kecil, hanya gejala nonspesifik yang dapat hadir, seperti lekas marah dan kantuk.

Jika ruam muncul, mungkin menunjukkan penyebab tertentu meningitis, misalnya meningitis yang disebabkan oleh bakteri meningokokus mungkin disertai dengan ruam karakteristik.

Para peneliti di Zurich menemukan bakteri Streptococcus tigurinus yang baru diidentifikasi dalam darah pasien dengan meningitis. Para peneliti juga menemukan bakteri tersebut pada orang-orang dengan spondylodiscitis, atau peradangan tulang belakang.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bakteri tersebut pada orang-orang dengan jenis penyakit jantung yang disebut endokarditis.

"Bakteri Streptococcus tigurinus tampaknya memiliki potensi alam menyebabkan penyakit parah. Bakteri tersebut dapat masuk ke aliran darah melalui gusi yang berdarah. Namun, risiko tertentu belum dapat ditentukan dan dipastikan," kata Dr Andrea Zbinden seperti dilansir dari TheTelegraph, Kamis (23/2/2012).

Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology edisi 22 Februari 2012.

Para peneliti di Zurich menemukan bakteri mulut baru yang diidentifikasi beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan telah menemukan bahwa bakteri mulut tertentu dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke dengan memecah keluar ke aliran darah dan menyebabkan pembekuan darah.

 


10 Cara Mengobati Sakit Gigi yang Berlubang


http://arhamvhy.blogspot.com/2012/05/10-cara-mengobati-sakit-gigi-yang.html

Dokter Lebih Malas Cuci Tangan Dibanding Perawat




img
foto: Thinkstock
Jakarta, Di seluruh dunia, kesadaran untuk mencuci tangan di kalangan tenaga kesehatan baru mencapai 50 persen. Fakta yang terungkap di Indonesia lebih menarik, sebab ternyata para dokter lebih malas cuci tangan dibanding para perawat.

Padahal risiko penularan kuman penyakit relatif lebih tinggi ketika berada di rumah sakit. Selain karena banyak terjadi interaksi dengan banyak orang, para pasien yang dirawat pada umumnya memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

"Strategi paling murah untuk mencegah infeksi di rumah sakit adalah dengan cuci tangan. Sayangnya 50 persen upaya ini gagal di seluruh dunia," ungkap Dr Latre Buntaran, Sp-MK, Sekjen Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indionesia (Perdalin), dalam jumpa pers di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Jumpa pers tersebut digelar dalam rangka penandatanganan kerjasama antara Perdalin dengan Bayer Schering Pharma dalam mengampanyekan kebersihan tangan dan pengendalian infeksi. Kampanye tersebut ditujukan kepada dokter dan perawat di beberapa rumah sakit se-Indonesia.

Di negara berkembang, kegagalan yang dimaksud Dr Latre sering dipicu oleh keterbatasan dana untuk mengadakan fasilitas cuci tangan. Namun ketika sudah ada dana, kendala berikutnya yang sebenarnya paling memprihatinkan adalah kurangnya kepatuhan untuk menaati prosedur.

Penelitian yang dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada awal tahun 2010 mengungkap masalah yang kurang lebih sama. Di rumah sakit tersebut, tingkat kepatuhan dokter maupun perawat untuk mencuci tangan setelah melakukan tugas tertentu masih sangat rendah.

Jenis tindakan Kepatuhan Perawat Kepatuhan Dokter
Sesudah kontak dengan pasien 60% 50%
Sesudah tindakan invasif (bedah dll) 70% 60%
Tindakan aseptik (pencegahan sebelum kontak dengan pasien 67% 42%
Sesudah kontak dengan lingkungan atau benda-benda milik pasien 47% 30%
Sesudah kontak dengan cairan tubuh pasien 53% 43%

Yang menarik dari tabel di atas adalah dokter-dokter RSCM yang umumnya mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi justru kalah rajin dari para perawat. Namun secara umum ada beberapa alasan yang membuat para tenaga kesehatan malas untuk cuci tangan, di antaranya:
  1. Infrastruktur dan peralatan cuci tangan kurang memadai dan letaknya kurang strategis
  2. Terlalu sibuk
  3. Tangan tidak terlihat kotor
  4. Sudah menggunakan sarung tangan
  5. Mengalami iritasi kulit jika terlalu sering cuci tangan
  6. Cuci tangan menghabiskan banyak waktu.
  7. Banyak dokter kemproh...hehehe.

Pengobatan Impotensi: Mulai dari Sentuhan Wanita Hingga Viagra


img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Pengobatan terhadap disfungsi ereksi telah dikembangkan sejak 4000 tahun yang lalu dan memiliki sejarah yang panjang. Pengobatan dimulai dari hal yang berbasis kepercayaan mistis hingga yang berbasis pengetahuan.

Seperti dilansir everydayhealth, Jumat (3/8/12), berikut sejarah metode pengobatan terhadap disfungsi ereksi (ED/erectile dysfunction) dari masa ke masa:

1. 2500 SM: Ramuan dan akupuntur

Filososfi Cina kuno mempercayai bahwa seorang pria memiliki yin dan yang tidak seimbang pada usia 60 tahun. Yin dan yang adalah unsur kekuatan yang sifatnya berlawanan tetapi harus seimbang agar kondisi seseorang dalam keadaan baik.

Kurangnya unsur yin dalam kehidupan dapat membuat energi seksual pria melemah. Sekitar 2500 sebelum Masehi, terdapat buku teks pengobatan tradisional Cina untuk mengatasi disfungsi ereksi yang berupa ramuan dari 22 bahan alami yang digunakan oleh raja agar tetap prima melayani 1.200 istri.

Selain ramuan, metode akupuntur juga telah digunakan pada masa itu. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan jarum untuk menyeimbangkan aliran energi dalam tubuh yang masih digunakan untuk pengobatan disfungsi ereksi di Cina hingga saat ini.

2. 1600 SM: Hati buaya

Sekitar 1600 SM, orang Mesir percaya bahwa impotensi adalah hasil dari gangguan alam atau mantra jahat. Orang Mesir memiliki banyak solusi untuk menangkal kutukan ED tersebut, termasuk menggosok penis dengan hati buaya.

Selain itu ada juga metode pengobatan dengan menggunakan bunga teratai sebagai obat untuk mengatasi impotensi. Bunga teratai di masa sekarang telah diketahui mengandung bahan aktif, apomorphine, yang dapat digunakan untuk mengobati ED.

3. 1000 SM: Bunga Nymphaea

Peradaban Maya kuno menggunakan bunga-bunga yang mungkin termasuk ke dalam genus yang sama dengan Nymphaea. Meskipun tanaman tersebut digunakan dalam dunia kuno sebagai bagian dari upacara keagamaan, peneliti berhipotesis bahwa bangsa Maya mungkin juga telah menggunakannya untuk mengobati disfungsi ereksi.

4. 300 SM: Gigitan lalat Spanyol

Pada sekitar 300 sebelum Masehi, peradaban Yunani kuno menggunakan lalat Spanyol untuk mengatasi disfungsi ereksi selama berabad-abad. Tetapi, pada zaman modern ini telah diketahui bahwa gigitan lalat Spanyol terlalu beracun dan tidak efektif untuk mengobati ED.

5. Abad ke-13: Mengusir iblis

Pada abad ke-13, teolog abad pertengahan Thomas Aquinas percaya bahwa iblis adalah penyebab paling mungkin dari disfungsi ereksi. Beberapa ratus tahun kemudian, dalam buku abad pertengahan dituliskan cara untuk memburu penyihir yang disebut Malleus Maleficarum.

Pria dengan masalah ED didesak untuk melacak perempuan yang telah menyihir penisnya dan membujuk perempuan tersebut untuk mengembalikan ereksinya.

6. Tahun 1600-1900: Sentuhan tangan wanita

Selama tahun 1600-an, orang-orang pada masa itu berpendapat bahwa lemahnya penis dapat diatasi oleh sentuhan tangan wanita. Sentuhan tangan wanita dapat membuat penis mengalami ereksi.

Namun, pada akhir abad ini, para ilmuwan telah menemukan bahwa ereksi sebenarnya disebabkan oleh pasokan darah dalam arteri penis. Sehingga pada tahun 1873, peneliti telah berhasil menemukan pengobatan bedah pertama untuk disfungsi ereksi, yaitu dengan memblokir pembuluh darah yang menguras darah dan menyebabkan penis tidak bisa ereksi.

7. Awal abad ke-20: Transpalantasi jaringan testis monyet

Pada tahun 1918, seorang dokter Rusia memperkenalkan ide gila untuk melakukan transplantasi jaringan testis monyet ke manusia. Operasi eksperimental untuk mengobati ED juga dilakukan dengan menanamkan jaringan dari testis yang diambil dari mayat manusia, kambing, babi hutan, dan rusa terhadap penis pria yang menderita impotensi.

Kemudian, pada tahun 1935, peneliti di Belanda mampu mengidentifikasi adanya hormon testosteron pada pria dan mulai menggunakan hal ini sebagai pedoman pengobatan.

8. 1960: Implan penis

Implan penis awalnya didasarkan pada pengamatan bahwa terhadap banyak hewan yang memiliki tulang penis sejati. Tapi upaya untuk menanamkan tulang atau tulang rawan ke penis manusia gagal karena cangkokan dengan cepat diserap tubuh.

Sebaliknya, dokter mulai menggunakan implan sintetis pada tahun 1960. Implan pertama masih menemukan banyak kesulitan dan menyebabkan rasa sakit. Pada awal tahun 1970-an digantikan dengan implan yang dapat dipompa penuh dengan udara.

9. 1970: Pemompa penis

Pada tahun 1970-an, seorang aktivis gereja yang memiliki bisnis perbaikan ban menemukan cara untuk melampirkan pompa ban ke silinder yang menghasilkan tekanan yang dapat membuat penis mendapatkan ereksi.

FDA menyetujui sistem pompa penis untuk mengatasi disfungsi ereksi. Memompa penis sekitar 30 menit sebelum berhubungan seks dengan alat tersebut dapat membangkitkan ereksi tanpa perlu pengobatan.

10. 1980: Suntikan penis

Kemajuan medis ini terjadi tanpa sengaja, ketika seorang ahli bedah Prancis sengaja menyuntikkan obat papaverine untuk membuka pembuluh darah ke dalam penis seorang pasien. Ternyata penis tersebut menunjukkan reaksi ereksi instan dan kemudian penemuan yang tidak disengaja ini menjadi awal dari terapi injeksi intrakavernosa ED.

11. 1990-sekarang: Viagra

Pada tahun 1994, peneliti tidak sengaja menemukan viagra ketika sedang melakukan uji coba terhadap obat untuk mengatasi radang tenggorokan. Ternyata, seldenafil dalam obat tersebut dapat menyebabkan ereksi. Pada tahun 1998, FDA menyetujui Viagra untuk mengobati ED yang digunakan hingga sekarang.

Gigi Palsu Magnet Mulai Digemari Orang Indonesia

Gigi Palsu Magnet Mulai Digemari Orang Indonesia

Chaidir Anwar Tanjung - detikHealth
Berbagi informasi terkini dari detikcom


img
Gigi Palsu Magnet (jcda)
Pekanbaru, Saat ini sudah ada gigi palsu magnet yang bisa lebih merekat jika ditempelkan kegigi aslinya. Gigi palsu magnet dianggap aman digunakan karena radiasinya lebih rendah dari radiasi telepon seluler.

Demikian disampaikan Ketua Ikatan Kedokteran Gigi Estitika Indonesia (IKGEI), Drg Rudi Wiginato dalam seminar ‘Riau dental Scientific Expo’ di Hotel Pangeran, di Pekanbaru seperti ditulis Senin (28/5/2012).

Menurut Rudi, penggunaan teknologi magnet pada gigi palsu kini menjadi salah satu pilihan dalam pengobatan dan estetika gigi yang mulai digemari di Indonesia.

"Penggunaan magnet pada gigi palsu terbukti aman dan mulai banyak digunakan di kota-kota besar di Indonesia," kata Rudi.

Dia menjelaskan, sebenarnya penggunaan gigi palsu bermagnet sudah mulai berkembang di Eropa pada tahun 1950-an. Sedangkan di Indonesia penggunaan gigi palsu bermagnet ini mulai diperkenalkan pada tahun 2011.

"Kelebihan magnet pada gigi palsu ini bisa menambah perekatan ke gigi asli yang tersisa dibandingkan teknologi yang ada sebelumnya. Penggunaannya bisa dipasang pada gusi dengan implan pasak seperti mahkota," kata Rudi.

Dengan demikian, lanjutnya, pengguna gigi palsu bermagnet tak perlu lagi menggunakan kawat penyangga dan tak perlu takut gigi palsu tak sengaja tertelan saat tidur.

Tekniker gigi dari Asia Afrika Dental, Fransiska Sisilia, menambahkan penggunaan gigi palsu bermagnet juga aman dan tak mengganggu fungsi alat pengguna alat pacu jantung yang digunakan. Gigi palsu magent ini radiasinya lebih rendah dari radiasi telepon seluler.

"Magnet gigi palsu juga tidak kasat mata karena tebalnya hanya sekira 1,1 milimeter (Mm) dan diameternya sekitar 4 Mm. Pengguna gigi palsu bermagnet makin banyak jadi pilihan terutama di kota-kota besar, seperti Bandung," katanya.




















Agar Gigi Palsu Terasa Nyaman

Bila gigi dewasa tanggal, sebaiknya gigi harus segera diganti sehingga gigi tetap berada pada tempatnya masing-masing. Untuk menggantinya bisa digunakan gigi palsu. Namun tak semua orang mau menggunakan gigi tiruan karena rasa tidak nyaman.

Profesor Suzan Elias, ahli ilmu gigi tiruan dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, menjelaskan ada beberapa keluhan yang kerap dirasakan para pengguna gigi tiruan. Misalnya saja pengurangan tekanan kunyah sehingga sulit mengunyah makanan yang keras dan mulut lebih terasa penuh.

"Gigi palsu juga sering bergeser sedikit waktu dipakai untuk mengunyah sehingga orang takut giginya lepas," katanya dalam acara peluncuran Polident Reuni Impian yang diadakan oleh GlaxoSmithKline di Jakarta, Kamis (23/2/12) kemarin.

Masalah lain termasuk terjadinya luka di mulut dan radang gusi karena gigi palsu menekan gusi. Penggunaan gigi palsu seharian penuh juga kerap menyebabkan mulut berbau karena ada sisa makanan terperangkap di bawah gigi palsu.

Walau pun terkesan tidak nyaman, namun Suzan tetap menyarankan penggunaan gigi palsu karena gigi yang hilang bisa membuat susunan gigi bergeser dan kesulitan mengunyah. "Gigi yang hilang lama kelamaan akan mengubah penampilan wajah," katanya.

Untuk menyiasati agar gigi palsu selalu nyaman dikenakan, ia menyarankan agar gigi palsu digunakan sesering mungkin sehingga proses adaptasi berjalan lebih baik. "Tetapi kalau malam sebaiknya dilepas agar gusi beristirahat," imbuhnya.

Penggunaan perekat gigi tiruan juga disarankan agar pasien bisa merasakan daya kunyah yang lebih kuat dan mencegah makanan terselip di antara gusi yang bisa menyebabkan bau mulut.

Agar gigi palsu tidak terasa longgar, sebaiknya proses pembuatan gigi palsu dilakukan oleh dokter prostodontis. Jika gigi palsu terasa tidak nyaman dalam beberapa menit setelah dipakai, rasa sakit saat mengunyah atau gusi menjadi merah dan bengkak, segera periksakan ke dokter gigi.


Minggu, 22 Juli 2012

TUKANG GIGI, NASIBMU KINI,,,


Gigi Palsu "cekat" ala tukang gigi

Gigi palsu merupakan pilihan perawatan yang terbilang wajib dilakukan kalau mengalami kehilangan gigi akibat berbagai sebab. Namun pemasangannya harus dengan prosedur yang benar.
Seperti diketahui, gigi palsu lepasan tidak dapat dibuat dan diperlakukan sembarangan. Namun tentu saja beberapa pihak membuatnya dengan kaidah yang menyimpang.
Gigi palsu dengan bahan akrilik lepasan tidak bisa serta merta dipakai begitu saja. Sesuai dengan namanya, ada kalanya harus dilepas untuk dibersihkan. Jika tidak maka sisa makanan akan mengundang bakteri untuk berkembang biak dengan leluasa. Akhirnya jaringan lunak rongga mulut mengalami infeksi dan iritasi.
Pada kebanyakan kasus pasien datang ke dokter gigi dengan keluhan sakit setelah membuatkan gigi palsu ke tukang gigi. Ketika dilakukan wawancara, dketahui bahwa gigi palsu yang disebut "cekat" tersebut memang benar-benar cekat. Tidak dapat dilepas dan sangat bau. Bau diakibatkan oleh sisa makanan yang menempel dan tidak dibersihkan.
Selain itu kadang datang pasien dengan keluhan giginya bengkak. Ketika ditelusuri, yang bersangkutan memakai gigi palsu "cekat" ala tukang gigi. Ketika ditanya lebih lanjut ternyata banyak sisa akar gigi yang tidak dicabut sebelum dilakukan pemasangan gigi palsu tersebut. Sisa akar tersebut malah digunakan sebagai media untuk merekatkan gigi palsu. Akibatnya infeksi gigi tersebut berkembang parah dan akhirnya menyebabkan abses, pembengkakan yang disertai nanah.
Berkaitan dengan hal-hal tersebut maka sangat dianjurkan untuk berhati-hati. Pada mulanya membuat gigi palsu ke tukang gigi memang lebih murah namun apakah sepadan dengan akibat yang ditimbulkan? bukannya murah, nantinya malah memerlukan perawatan yang lebih mahal.

PROSTODONSIA (Gigi Tiruan)
Penanganan masalah terkait dengan gigi tiruan, memulihkan fungsi pengunyahan (pasca pencabutan), meningkatkan kualitas hidup dari segi estetika dan kemampuan mengasup nutrisi dengan pulihnya kemampuan pengunyahan.
flexible denture
FAQ's...
1.  Mengapa gigi yang dicabut harus diganti gigi palsu?
Ruang kosong bekas pencabutan jika dibiarkan tidak terganti maka akan mengakibatkan berubahnya posisi gigi di sekitar ruang kosong tadi. Gigi-gigi yang berubah diantaranya adalah gigi antagonis/lawannya, gigi tersebut akan "tumbuh" atau memanjang akibat ketiadaan gigi yang dudah dicabut tersebut. Gigi yang memanjang tersebut akan menimbulkan beberapa masalah seperti kegoyahan gigi, ngilu karena akar gigi terbuka dan gangguan pengunyahan. Selain itu gigi di depan dan belakangnya akan rebah sehingga akan menimbulkan masalah yang hampir serupa.

2.  Kalau mau ganti gigi palsu apakah akar gigi yang tertinggal harus dicabut?
Akar gigi yang tertinggal akan menjadi sumber infeksi yang dapat menyebar apabila tidak dicabut. sehingga lebih baik apabila dilakukan pencabutan terlebih dahulu. meskipun demikian ada jenis gigi palsu yang sengaja mempertahankan akar gigi, namun hal tersebut dilakukan dengan tujuan perawatan tertentu yang sudah diperkirakan efek sampingnya. akar gigi yang sengaja ditinggal tersebut akan dilakukan perawatan pendahuluan sehingga kemungkinan infeksi dapat dihindarkan.
3.  Mengapa para tukang gigi bisa memasang gigi palsu yang tidak permanen menjadi permanen?
Di dalam ilmu kedokteran gigi, teknik yang dilakukan oleh tukang gigi dapat dikatakan menyimpang. dalam melakukan suatu perawatan, seorang dokter gigi akan memperkirakan kelangsungan perawatan di kemudian hari atas perawatan yang dilakukannya hari ini. Hal tersebut tidak dilakukan oleh seorang tukang gigi. Tidak jarang pasien dengan gigi palsu "permanen" datang ke dokter gigi dengan keluhan gusi yang mudah berdarah dan bau mulut yang amat sangat. setelah dilihat ternyata gigi palsu buatan tukang gigi tersebut menimbulkan infeksi yang sudah parah, perawatan lanjutan akan memerlukan waktu dan biaya yang lebih mahal.

4.  gigi palsu seperti apakah yang terbaik
Gigi palsu yang terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi rongga mulut pasien dan dapat dijangkau secara finansial. hal tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter gigi anda.

Produk Pemutih Gigi dapat Merusak Enamel



img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Beberapa minuman seperti jus jeruk dan kopi dapat membuat Anda kehilangan warna putih alami gigi. Tetapi jika Anda menggunakan produk pemutih gigi sebelum tidur, Anda akan mengalami berkurangnya enamel gigi dan mungkin akan meninggalkan rasa nyeri pada gigi ketika Anda bangun tidur di pagi hari.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Dentistry menemukan bahwa usaha memutihkan gigi dengan produk pemutih gigi dapat menyebabkan lapisan luar yang keras dari gigi menjadi tipis yang mungkin akan menyebabkan gigi sensitif, iritasi, dan pembusukan.

Peneliti menguji lima merek utama pemutih gigi yang mengandung hidrogen peroksida atau peroksida karbamid. Produk tersebut diterapkan terhadap 65 sampel gigi manusia sesuai dengan instruksi pabrik. Dalam semua kasus, ditemukan beberapa sampel gigi yang kehilangan enamel pada skala nanometer.

"Anda tidak dilarang menggunakan produk pemutih gigi, tapi yang perlu Anda ingat adalah produk tersebut juga memiliki efek samping," kata Shereen Azer, BDS, MSc, MS, asisten profesor pada Division of Restorative and Prosthetic Dentistry di Ohio State University’s College of Dentistry seperti dilansir rodale, Senin (30/4/2012).

Jika gigi Anda terlalu sensitif atau Anda khawatir terhadap efek samping dari produk pemutih gigi, berikut beberapa cara memperkuat enamel gigi, antara lain:

1. Kunjungi dokter gigi secara teratur
Mintalah dokter gigi Anda untuk membersihkan gigi Anda secara profesional setiap enam bulan sekali. Hal ini dapat membantu mengurangi kebutuhan Anda akan produk pemutih gigi. Jangan minta pada TUKANG GIGI yg kurang berkompeten, jadi kita harus tau ini Tukang Gigi apa Tehkniker Gigi.

2. Minum susu
"Lemahnya enamel sebenarnya karena hilangnya kalsium, tetapi tubuh Anda memiliki kemampuan alami untuk memperbaikinya. Hilangnya kalsium dapat kembali setelah beberapa saat dari air liur Anda," kata Azer.

Anda dapat membantu memperkuat enamel dengan memenuhi kebutuhan kalsium dengan mengonsumsi sumber kalsium, seperti susu, sereal dan ikan sarden.

3. Gunakan pasta gigi yang lebih baik
"Enamel terbangun dari kalsium yang terkandung dalam pasta gigi remineralisasi atau pada pasta gigi dengan gel fluoride," kata Azer. Gunakanlah pasta gigi yang bebas dari sodium laurel sulfat yang dapat mengiritasi gusi.

4. Ganti sikat gigi Anda
"Beberapa sikat gigi, jika tidak digunakan dengan benar, dapat melemahkan email gigi," kata Azer. Pilihlah sikat gigi yang berbulu lembut, bukan yang keras.

Jumat, 20 Juli 2012

PERMASALAHAN RAHANG dan GIGI OMPONG

Gigi Tak Rata Bukan Sekadar Soal Estetika


Dibaca: 1249


Shutterstock
Ilustrasi maloklusi
JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah maloklusi atau kelainan bentuk rahang dan susunan gigi, seperti gigi menonjol ke depan (tonggos) atau pun cameuh(rahang bawah menonjol ke depan), sesungguhnya bukan sekadar masalah estetika semata. 

Menurut drg.Amilia Jeni Susanto, gigi yang tidak rata atau maloklusi dapat menyebabkan tiga masalah cukup serius bagi pasien. Problem pertama yakni masalah yang berhubungan dengan psikososial yang berhubungan dengan estetika dan bisa menyebabkan seseorang menjadi kurang percaya diri.

Kedua adalah masalah yang berkaitan dengan fungsi oral (mulut), termasuk kesulitan dalam pergerakan rahang atau tidak adanya koordinasi otot atau rasa sakit, gangguan sendi rahang, masalah pengunyahan, penelanan makanan, serta fungsi bicara. Sedangkan yang terakhir adalah kerentanan yang lebih besar terhadap trauma atau penyakit periodontal. 

Dipaparkan oleh Amilia, maloklusi sebagian besar disebabkan karena faktor keturunan, namun juga bisa diakibatkan oleh kekurangan gizi yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan rahang.  Tindakan meratakan gigi (ortodonti) untuk mengatasi maloklusi menurut Amilia sebaiknya dilakukan sebelum seorang remaja memasuki usia pubertal growth spurt (PGS) atau masa percepatan pertumbuhan di mana pertumbuhan tulangnya sudah berhenti.

"Keuntungan dari tindakan ortodonti sebelum pubertas adalah bisa dilakukan tanpa pencabutan gigi. Pada umumnya masa PGS pada remaja adalah usia 16 tahun," paparnya seusai meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (10/1/12).

Amilia menambahkan, modifikasi ortodonti yang dilakukan pada remaja biasanya adalah penggunaan alat-alat ortopedi untuk memperbaiki kelainan rahang.  "Sebaiknya anak usia 7 tahun dibawa ke dokter gigi untuk dilihat apakah mereka mengalami kelainan rahang atau tidak. Jika masalahnya adalah gigi yang tidak rata perawatannya bisa ditunda namun jika maloklusi sebaiknya dilakukan sebelum pubertas," paparnya.

Menurut hasil sebuah survei yang dilakukan Departemen Kesehatan, prevalensi maloklusi di Indonesia sangat tinggi, yakni mencapai 80 persen dari jumlah penduduk
.

Perbaiki Kelainan Rahang Sebelum Pubertas



shutterstock
KOMPAS.com - Kelainan rahang yang menyebabkan susunan gigi geligi tidak rata atau maloklusi bukan hanya dapat menyebabkan gangguan estetika, tetapi juga gangguan dalam pergerakan rahang. Maloklusi ini sebaiknya dikoreksi sebelum anak memasuki usia pubertas.

Keuntungan perawatan ortodonti (meratakan gigi) pada usia remaja adalah bisa dilakukan modifikasi dengan alat-alat ortopedik untuk menarik rahang, sehingga tidak diperlukan pencabutan gigi sehingga perawatannya menjadi lebih singkat.

"Kelainan yang mengenai rahang atau skeletal biasanya disebabkan karena faktor keturunan. Pada kondisi ini, penggunaan kawat gigi tidak banyak membantu karena kawat gigi hanya memperbaiki keadaan gigi. Padahal kelainan itu disebabkan karena bentuk rahangnya," papar drg.Amilia Jeni Susanto seusai promosi doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Selasa (10/1) di Jakarta.

Amelia meraih gelar doktor dengan yudisium memuaskan di bawah bimbingan promotor Dr.Miesje K.Purwanegara, drg, Sp.Ort(K) dan kopromotor Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg.

Dalam disertasinya, Amilia memaparkan keuntungan menjalani perawatan ortodonti pada remaja yang belum masuk masa pubertal growth spurt (PGS). Bila perawatan dilakukan pada masa sekitar PGS akan memberi hasil yang baik. Penilaian apakah PGS anak sudah dimulai atau belum bisa dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan anak serta menilai tahap maturasi rahang dengan indeks maturasi vertebrata.

Penelitian dilakukan pada 218 remaja di sekitar daerah Jakarta. Semua subyek penelitian adalah remaja dengna gizi baik, belum pernah melakukan perawatan ortodonti dan memiliki maloklusi tingkat 1. Hasil penelitian menunjukkan penilaian maturasi vertebrata servikal bisa menggantikan penilaian maturasi tulang karpal sehingga dokter bisa melakukan perawatan ortodonti meski pasien tidak melakukan foto rontgen.

"Sebenarnya tanpa foto rontgen, hanya dengan melihat profil wajah serta pengukuran tinggi dan berat badan anak sudah bisa dinilai. Namun untuk mengetahui keparahan kelainan rahang memang sebaiknya dirontgen," papar Amelia yang menjadi koordinator Pelayanan Medik Departemen Gigi dan Mulut Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Makin Tua Rahang Makin Menyusut



KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
KOMPAS.com  Pertambahan usia akan mengubah bentuk fisik seseorang. Salah satu yang ikut berubah adalah penyusutan rahang. Hal ini akan menyebabkan susunan gigi depan menjadi berantakan.
Perubahan bentuk rahang ini nyata terlihat dalam penelitian yang dilakukan selama 40 tahun. Lars Bondemark, profesor orthodontis dari Universitas Malmo, Swedia, membuat hasil cetakan gips gigi para mahasiswa pada tahun 1949 ketika mereka masih berusia 20 tahun.
Kemudian, pada tahun 1959 dan 1989 ia kembali membuat cetakan gigi yang sama dari mahasiswa yang sudah bertambah tua tersebut.
"Kami menemukan setelah 40 tahun ruang yang tersedia untuk gigi di rahang makin sedikit," kata Bondemark.
Makin sempitnya ruangan untuk gigi depan itu terjadi karena penyusutan rahang baik panjang maupun lebarnya beberapa milimeter, terutama pada rahang bawah.
Besar kecilnya penyusutan, menurut Bondemark, berbeda-beda pada tiap individu tergantung pada faktor anatomi dan keturunan. Pada beberapa kasus, penyusutannya sangat signifikan sehingga terjadi perubahan kemampuan menggigit.
Ditegaskan oleh dia, yang harus diketahui pasien adalah perubahan ini wajar terjadi. Sementara itu, para dokter gigi harus mempertimbangkan penyusutan rahang ini saat mereka akan membuat rencana terapi pada gigi pasien

.

Gigi Ompong Berdampak Buruk buat Lambung


Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Masalah gigi ompong bukan hanya merusak penampilan seseorang, melainkan juga bisa menjadi pemicu gangguan penyakit, terutama pencernaan.
Menurut spesialis prosthodonsia dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Prof Dr drg Suzan Elias, seseorang dengan gigi ompong umumnya mempunyai masalah dengan lambung.
"Ibaratnya kalau kacang harus ditumbuk 10 kali, ini cuma sekali sudah ditelan. Jadi lambung tidak kuat. Oleh karena itu, pada orang yang giginya tidak benar, umumnya lambungnya juga tidak benar," katanya, saat acara Polident Adhesiv Cream Media Launch, Rabu (9/11/2011).


Suzan mengatakan, setiap individu yang kehilangan gigi (ompong) perlu suatu alat bantu untuk mengunyah makanan salah satunya dengan memasang gigi tiruan. Pasalnya, tanpa adanya suatu susunan gigi yang utuh, seseorang akan mengalami masalah saat proses mengunyah makanan. Akibatnya, apabila dibiarkan terus-menerus, akan berdampak buruk pada organ lambung.
"Tapi itu tidak terjadi seketika. Artinya, dalam jangka panjang, bukan jangka pendek. Oleh karena itu, setiap kehilangan gigi, sebaiknya dibuatkan penggantinya. Karena dengan ada penggantinya, pengunyahan akan lebih efektif," paparnya.
Menurut Suzan, ada dua jenis gigi tiruan yang dapat digunakan sebagai pengganti gigi yang ompong, yaitu gigi tiruan lepasan dan cekat. Kedua jenis gigi tiruan tersebut punya indikasi yang berbeda-beda. Pada gigi tiruan cekat, misalnya, indikasinya lebih terbatas karena harus mempunyai gigi pendamping di sebelahnya.
"Jenis ini bersifat permanen. Setelah kedua gigi sebelahnya diasah, selanjutnya gigi tiruan tersebut disemen dengan membuat jembatan ke gigi sebelahnya," katanya.
Sementara untuk pemasangan gigi tiruan lepas, tidak ada indikasi khusus dan pengerjaannya jauh lebih mudah, gampang dipasang, dan murah. Bahkan, menurut Suzan, gigi tiruan lepasan dapat digunakan oleh segala kelompok usia. Berbeda dengan gigi tiruan cekat, yang mempunyai batas usia minimal 17 tahun.
"Kalau yang lepasan siapa pun bisa karena tidak diasah giginya. Kita bilang ini crown extra-coronal (di luar) jadi tidak mengganggu," tambahnya.
Suzan menjelaskan, pada dasarnya ada 4 (empat) alasan penting yang mendasari mengapa orang dengan gigi ompong perlu untuk menggunakan gigi tiruan. Pertama, memperbaiki estetika. Kedua, memperbaiki pengunyahan. Ketiga, memperbaiki cara bicara dan keempat menjaga kelestarian jaringan sekitarnya.
"Jadi, kalau ada gigi yang ompong jangan dibiarkan. Harus diganti. Jika tidak, gigi yang lawannya akan turun akibat tidak mempunyai kontak. Begitu pula dengan gigi sebelahnya yang akan menyamping karena tidak ada kontak dengan gigi sebelahnya," terangnya.
Suzan mengakui, sampai saat ini belum ada data pasti berapa jumlah pemakai gigi tiruan di Indonesia. Menurut dia, gigi tiruan bukanlah barang yang murah sehingga penggunaan gigi tiruan masih tergantung dari sejauh mana kemampuan masyarakat.
Mengingat pentingnya kebutuhan masyakarat akan gigi tiruan, Suzan berharap ke depan pemerintah membuat suatu program khusus untuk mereka yang membutuhkan gigi tiruan agar dapat memperoleh pengobatan di puskesmas. Dengan begitu, masyarakat tidak terlalu dibebani dan bisa menjangkaunya.
"Mungkin dengan menggunakan bahan seperti akrilik (yang tidak terlalu mahal). Jadi orang-orang yang memang perlu gigi tiruan bisa dengan mudah bikin di puskesmas. Tapi, sampai sekarang belum ada jawaban dari pemerintah," tandasnya
.

Lansia Bergigi Ompong Lebih Rentan Pikun



Shutter Stock
Ilustrasi

kompas.com —
 Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kehilangan gigi merupakan bagian dari proses penuaan. Ternyata, orang lanjut usia (lansia) yang kehilangan gigi lebih berisiko mengalami demensia atau kepikunan.
Kemunduran kemampuan kognitif yang ditandai dengan berkurangnya daya ingat itu merupakan salah satu gejala awal penyakit alzheimer. Bila dibandingkan dengan lansia yang masih memiliki gigi, mereka yang mulai ompong ternyata lebih banyak mengalami kepikunan.
Penelitian dilakukan terhadap lebih dari 4.000 orang Jepang berusia minimal 65 tahun yang memeriksakan gigi dan fisik. Partisipan yang mengalami gejala pikun lebih jarang,  bahkan tidak pernah, mengunjungi dokter gigi.
"Infeksi pada gusi bisa menyebabkan gigi tanggal dan membuat tubuh melepaskan zat kimia penyebab radang. Hal ini bisa memicu inflamasi di bagian otak, yang berakibat pada matinya saraf-saraf dan mempercepat kepikunan," kata Dr Nozomi Okamoto, peneliti.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut bisa menjadi lingkaran setan. Hilangnya koneksi antarsaraf di otak bisa menyebabkan gigi tanggal dan akhirnya menyebabkan kemunduran kognitif.

Tulang Keropos Bisa Bikin Gigi Ompong


shutterstock
  • KOMPAS.com — Osteoporosis atau pengeroposan tulang bisa terjadi tanpa terlihat adanya perubahan bentuk atau struktur luar tulang, tetapi daerah di dalam tulang menjadi berlubang-lubang sehingga mudah patah. Demikian pula yang terjadi pada rahang.

Rahang sebenarnya merupakan tulang. Namun, rahang terdiri dari tulang trabekular yang tidak sepadat tulang biasa. Trabekular sangat rentan terhadap osteoporosis. Karena itu, jangan kaget bila tulang rahang yang menjadi tempat gigi menempel bisa keropos.

Pada waktu kalsium tulang digerogoti, rahang lebih dulu yang merasakan. Akibatnya, gigi menjadi longgar sehingga rentan menjadi ompong. Pada usia 65 tahun, orang yang sehat mungkin telah kehilangan sebagian besar giginya.

Selain rahang, kebanyakan tulang patah akibat osteoporosis juga terjadi pada bagian tulang belakang, pergelangan tangan, dan panggul. Sebenarnya, kejadian osteoporosis dapat ditunda atau dicegah.

Menurut dr.Sonja Roesma, SKM, AAK, dalam buku Pencegahan Dini Osteoporosis, pencegahan osteoporosis dapat dilakukan sejak pembentukan tulang saat bayi masih dalam kandungan hingga usia balita lewat pemenuhan gizi dan nutrisi. Selanjutnya, pemadatan tulang dan percepatan tumbuh saat usia remaja menjadi masa pencegahan yang paling berarti.

Tulang, seperti organ-organ lain dalam tubuh, membutuhkan diet seimbang yang terdiri dari energi, protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin untuk pertumbuhannya. Tulang sangat memerlukan makanan yang kaya kandungan mineral dan kalsium.

Selain susu, kalsium juga banyak terdapat pada ikan teri, sarden, kacang-kacangan, dan sayuran. Dengan berinventasi pada "bank" tulang melalui gizi yang baik dan gaya hidup sehat, tulang menjadi kuat dan lebih tahan pada hari tua.
Sumber :
Healthday News